
Banyak peran yang harus dijalani perempuan dalam hidupnya, sebagai ibu, istri, domestic manager, perempuan karier dan juga sebagai dirinya sendiri. Tuntutan yang sedemikian tinggi sebagai "supermom" mau tak mau harus disiasati secara cerdas, sebab kalau tidak, akan ada yang dikorbankan.
Anak sebagai sumber kebahagiaan bagi seorang perempuan tentu harus tetap menjadi bagian hidupnya. Harapan manis untuk dapat menjadi seorang ibu yang baik pasti terwujud asalkan ibu tahu cara yang cerdas. Antara lain, jadilah teman bicara yang asyik bagi anak, doronglah anak untuk bercerita tentang pengalaman menyenangkan, mengesalkan, atau menyedihkannya di sekolah. Dan jadilah pendengar yang baik, jangan mendominasi pembicaraan dan jangan "sok tahu" terhadap urusan anak. Sikap seperti ini hanya akan menurunkan kualitas hubungan anak dan orang tua.
TETAP ROMANTIS DONG!
Hanya saja, kehadiran anak yang menyedot perhatian ibu sering membuat ayah "terabaikan". Tentu saja ketimpangan ini akan menyisakan ruang kosong pada relasi suami istri yang dapat menurunkan kualitasnya. Bila berlarut-larut akan mempengaruhi kehidupan rumah tangga secara keseluruhan.
PANTANGAN SUPERMOM
KESUKSESAN ibu menjadi supermom ditandai dengan seimbangnya beragam peran yang ia emban. agar keseimbangan itu langgeng, hindari melakukan hal-hal ini:
* Mengisolasi diri sendiri dengan anggapan waktu seorang ibu harus tercurah 100% pada keluarga saja.
* Berusaha menjadikan semua hal sempurna.
* Mengeluh kepada orang lain seakan-akan hanya Anda yang mengalami masalah.
* Tergantung pada obat-obatan, rokok dan alkohol.
* Menyalahkan diri sendiri/orang lain atas stres yang Anda alami.
* Mengorbankan waktu untuk melakukan kesenangan, hanya karena harus melakukan tugas lain sebagai seorang ibu.
* Mudah menyerah.
* Gengsi minta tolong. Ingat minta tolong tidak sama dengan dependensi atau ketidakmandirian.
IBU RUMAH TANGGA JANGAN JADI KATAK DALAM TEMPURUNG
Status ibu rumah tangga tetap memberi peluang bagi perempuan untuk selalu meningkatkan diri dan jadi kebanggaan keluarga.
HINDARI STAGNASI
Bila Anda juga terjebak pada permasalahan di atas, cobalah untuk melakukan evaluasi. Bila perlu, libatkan suami agar mendapatkan penilaian objektif. Selanjutnya, carilah alternatif penyelesaian yang tepat. Menurut psikolog yang biasa dipanggil Lusi, ada beberapa yang mesti dilakukan terlebih dulu:
1. Galilah keterampilan atau hobi yang disenangi
Bergabung dengan kelas kursus sangat baik untuk mengembangkan hobi. Di situ umumnya diajarkan teknik atau trik-triknya. Langkah berikut, siapa tahu hobi ini dapat diseriuskan menjadi bisnis. Tambahan penghasilan yang diperoleh akan membuat ibu merasa punya arti lebih.
2. Libatkan suami dalam urusan anak dan rumah tangga
Jangan abaikan pentingnya peran suami dalam mendidik anak. Kedekatan ayah dan anak bermanfaat dalam mengembangkan kecerdasan emosi anak. Doronglah suami untuk banyak terlibat karena figur ayah sangatlah penting.
Bila suami tidak sempat, setidaknya ia dapat berperan sebagai quality control prestasi anak. Misalnya, menyempatkan menilai hasil karya mereka, "Bagus ya... tulisan kamu. Tapi, nanti dibikin yang lebih rata dan rapi."
3. Jalin terus komunikasi dengan suami
Komunikasi yang terjalin dengan manis bakal membuahkan hubungan yang harmonis. Komunikasi tak selalu harus dilakukan dalam waktu khusus dan dalam suasana yang formal. Bisa sambil makan bersama atau nonton televisi. Bila tak sempat lakukanlah pembicaraan di tempat tidur, khususnya untuk hal-hal yang tak mungkin dibicarakan di tempat umum.
Sebaiknya semua hal dikomunikasikan pada suami, baik yang menyenangkan maupun tidak. Disamping itu, mintalah baik-baik kepadanya untuk memisahkan masalah kantor dan keluarga agar fokusnya tidak bergeser. Tentu saja ibu harus tanggap bila suami mengajak berdiskusi tentang permasalahannya di kantor. Ini juga perlu agar ibu tahu perkembangan suami di luar. Hanya saja, kalau sedang pusing dengan urusan rumah, ibu bisa berterus terang.
4. Harus saling menyesuaikan diri
Seiring dengan berjalannya waktu, maka banyak terjadi perubahan dalam diri manusia. Untuk itu, masing-masing pasangan harus mau terus belajar mengenal perubahan dalam dirinya, baik secara fisik maupun emosional. Niscaya dengan semakin mengenal diri sendiri, ibu memperoleh rasa percaya diri yang tinggi pula.
SEHAT BADAN, SEHAT PIKIRAN
Walau hanya beraktivitas di rumah, lakukanlah apa yang disarankan Lusi agar fisik dan psikis ibu tetap prima
CERDAS MENGELOLA KEUANGAN RUMAH TANGGA
Ibu perlu tahu cara yang paling tepat agar setiap rencana keuangan dapat diwujudkan.
Asal tahu saja, kegagalan membicarakan soal uang berpotensi menimbulkan pertengkaran suami istri. Oleh karena itu dalam pengelolaan uang diperlukan komunikasi terus-menerus. Ibu yang cerdas pasti akan menghilangkan rasa sungkannya demi memperjelas aturan pengelolaan keuangan bersama suami. Bukankah kalau sudah menjadi suami-istri yang muncul bukan lagi uangmu-uangku tapi uang kita?
Jadi setiap penggunaan uang menjadi tanggung jawab bersama. Yang perlu disadari, membicarakan masalah uang bukanlah untuk berdebat siapa yang paling benar tentang uang, tapi untuk mencari kesamaan tujuan keuangan dan bagaimana cara mewujudkannya. Jelas, komunikasi yang baik merupakan modal utama pengelolaan keuangan yang lancar. Pastikan suami-istri bergerak ke arah yang sama.
MASALAH PENGELOLAAN UANG RUMAH TANGGA
* Ketidakmampuan mengelola.
* Tidak terbuka dalam hal jumlah penghasilan dan pengeluaran masing-masing.
* Berbeda pandangan akan hal yang dianggap penting dan tidak penting dalam soal keuangan.
MODEL PENGELOLAAN UANG
Mike Rini, seorang perencana keuangan dari Strategic Investment, Jakarta, memberikan gambaran mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga yang fair:
1. Jika suami-istri bekerja
Keuntungan dari pasangan yang keduanya bekerja adalah perasaan lebih aman dan nyaman dari segi finansial karena penghasilan rumah tangga tak bergantung pada satu sumber. Tak ada patokan baku bagaimana mengelola keuangan pasangan yang keduanya bekerja, yang penting suami-istri saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Namun, Mike memberikan 2 alternatif contoh pengelolaan uang suami-istri yang keduanya bekerja:
* Uang bersama
Suami-istri yang bekerja dapat bersepakat menggabungkan pendapatannya masing-masing dalam satu rekening. Di sini berarti semua penghasilan menjadi satu kesatuan dan keduanya bertanggung jawab terhadap pengeluaran uang, termasuk soal pembayaran kredit rumah, kebutuhan rumah tangga sehari-hari, bayar listrik, telepon, air dan sebagainya. "Bukan zamannya lagi menerapkan falsafah uangku-uangmu. Yang ada yaitu uang kita. Semua pengeluaran dibiayai dari penghasilan bersama."
Lantaran itu, Mike melihat pentingnya pasangan untuk melakukan cek dan ricek atas penghasilan dan pengeluaran dalam rumah tangganya. Bagi-bagilah tugas; siapa yang harus bayar keperluan A, B, C dan lainnya. Misalnya, suami bertanggung jawab membayar tagihan yang tergolong "berat" seperti cicilan kredit rumah, uang sekolah anak, dan premi asuransi. Sedangkan, istri kebagian tanggung jawab untuk belanja bulanan dan mengisi tabungan.
Jangan lupa, perincilah setiap pengeluaran dengan mencatat pengeluaran. Bukan apa-apa, banyak suami-istri yang kebobolan karena tak memiliki catatan keuangan yang rapi. "Kalau tidak dicatat, dijamin deh sebelum gajian uangnya sudah habis. Akhirnya nombok celengan."
* Membagi berdasarkan persentase
Cara kedua, pasangan menghitung seluruh kebutuhan atau pengeluaran rumah tangga setiap bulannya lalu menyepakati untuk "menyumbang" sejumlah uang untuk menutupi biaya kebutuhan sebulan yang sudah dirancang sebelumnya. Contohnya, kesepakatan memberi kontribusi sebesar 80:20 dari penghasilan. Maksudnya, masing-masing menyetor 80 persen dari penghasilannya untuk kebutuhan rumah tangga, sedangkan 20 persennya disimpan di tabungan masing-masing untuk kebutuhan sendiri. Apakah itu untuk membeli kosmetik, baju, sepatu, buku, atau keperluan hobi. Jika dari uang gabungan itu ternyata masih ada sisa, bisa dialokasikan untuk tabungan bersama.
Memang lebih baik setiap pasangan juga punya tabungan sendiri. Dari sini suami atau istri boleh memakai uangnya untuk kepentingan pribadi dan tidak mengganggu perencanaan keuangan rumah tangga. "Bagaimanapun setiap orang memiliki kebutuhan untuk dirinya sendiri. Setelah lelah bekerja sebulan, siapa pun ingin menikmati hasil jerih payahnya. Meski begitu, suami dan istri tetap berkomitmen untuk menomorsatukan kepentingan keluarga di atas kepentingan pribadi."
2. Jika hanya suami yang bekerja
Prinsip pengelolaannya sama saja. Yang jelas, suami-istri harus duduk bersama membuat anggaran keuangan dan membicarakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Misalnya, suami bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sementara ibu rumah tangga sebaiknya berperan sebagai manajer keuangan yang bertugas mengatur pengeluaran bulanan sampai dengan alokasi dana untuk tabungan dan melaksanakan pembayaran.
Dengan pembagian tugas yang adil seperti itu, secara psikologis suami takkan merasa lebih tinggi tanggung jawabnya ketimbang istri karena keduanya memiliki tugas yang berat. Kalaupun suami memiliki side job atau penghasilan di luar gaji rutinnya, bicarakan juga dengan istri bagaimana pengelolaannya; apakah dijadikan satu dalam rekening bersama atau sebagian disimpan dalam tabungan suami. "Yang pasti kedua belah pihak harus tahu, dari mana dan ke mana keluarnya uang."
3. Jika hanya istri yang bekerja
Kriteria ketiga adalah jika hanya istri yang menjadi pencari nafkah. Pengelolaan uangnya kurang lebih sama dengan kriteria kedua. Jadi tetap harus ada pembagian tugas yang proporsional. Suami yang tidak bekerja harus berperan sebagai manajer keuangan rumah tangga. Tanggung jawab yang sama besar ini diharapkan bisa membuat suami tidak sungkan, rendah diri, atau minder. Bagaimanapun suami-istri merupakan satu kesatuan.
Tentu saja, seorang manajer keuangan berhak mendapat uang saku. Tujuannya agar suami ataupun istri yang bertugas di rumah tetap merasa dihargai dan dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Bagaimanapun mengurus pekerjaan rumah harus dilakukan secara profesional.
Berapa besar uang saku yang harus diberikan? Tak ada patokan pasti. Pasangan yang tak bekerja sebaiknya mengajukan jumlah tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan sang pencari nafkah. Jangan lupa, seluruh kebutuhan rumah tangga harus terbayar dulu. Dari sisa uang itulah uang saku diambil.
LANGKAH-LANGKAH MENGELOLA UANG
1. Membuat gambaran kondisi keuangan
Mengelola keuangan harus berdasarkan data-data keuangan bukan secara emosi. Buatkan daftar atau catatan mengenai jumlah harta kekayaan termasuk utang masing-masing. Apa saja harta kita, dan utang kita dimana saja.
Setelah tahu berapa jumlah harta keseluruhan, tugas masing-masing pasangan adalah bertanggung jawab mengembangkan harta dan mengurangi jumlah utang. Misalnya, jika tabungan sekarang sejumlah Rp1 juta lalu di tahun depan ingin bertambah menjadi Rp13 juta maka suami-istri harus mulai menabung Rp1 juta per bulan disamping menyetor uang untuk membayar utang yang ada. "Kalau sudah tahu jumlah semua utang, maka tanggung jawab harus ditanggung berdua, bukan malah menambahi dengan utang baru."
2. Membuat gambaran sumber penghasilan dan pengeluaran
Buatlah catatan berapa jumlah penghasilan dan dari mana sumber pendapatan tersebut. Lalu, catat berapa jumlah total pengeluaran rutin dan untuk apa saja. Sisa dari penghasilan bisa digunakan untuk investasi atau menabung.
Jika total penghasilan ternyata habis digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maka harus diupayakan upaya menambah penghasilan atau lakukan langkah penghematan. Kurangi pos-pos pengeluaran yang besar. Tanpa anggaran kita tidak tahu apakah penghasilan kita mencukupi atau tidak.
3. Miliki tujuan keuangan bersama
Pasangan harus memiliki "impian" bersama. Misalnya, ingin menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, ingin memiliki rumah sendiri, meneruskan sekolah ke jenjang S2, dan sebagainya. Tentunya, tidak semua keinginan atau impian bisa dipenuhi saat ini karena keterbatasan dana. Nah, dengan menetapkan tujuan keuangan bersama, maka suami-istri bertanggung jawab untuk mewujudkan impian tersebut. Misalnya, dengan melakukan investasi atau menabung dalam jangka waktu tertentu secara rutin. Boleh jadi, semua harapan itu bisa terwujud.
4. Menentukan person in charge atau penanggung jawab
Yang tak kalah penting adalah pembagian tanggung jawab. Konkretnya, siapa yang bertugas bayar apa. Apakah suami atau istri yang membayar tagihan-tagihan premi asuransi, kartu kredit, listrik, telepon, internet, belanja rumah tangga, dan tabungan rutin. Kemudian, tiap sebulan sekali suami-istri duduk bersama untuk saling membahas pengeluaran sebulan terakhir. Yang menjadi person in charge menanyakan pada pasangannya apakah setuju dengan anggaran pengeluaran tadi. Suami-istri harus terbuka berkaitan dengan persoalan keuangan. Jangan sampai salah satu atau keduanya menggunakan dana dari rekening bersama untuk kebutuhan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar